<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d7109511\x26blogName\x3dmimimama+wawawa...\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dSILVER\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://mimimama.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://mimimama.blogspot.com/\x26vt\x3d-8327042964642446593', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

case study: bagi hasil

ceritanya ada 4 sekawan: anto, beni, catur dan dodik yg nyoba bikin usaha bareng: buka warung kecil-kecilan. modalnya patungan dari mereka berempat sama persis, masing2 seperempat bagian.

setelah 4 bulan operasional, keliatan kalo warung ini laris manis n untung banyak. sudah berhasil balik modal, bahkan profit. nah masalahnya perhitungan bagi hasil ini ternyata nggak segampang pengumpulan modal kemaren = masing2 setor seperempat bagian. soalnya secara operasional warung ini lebih banyak diurusi beni, catur n dodik. karena kesibukannya anto cuman bisa sekali2 nyambangi warung n bantu2 jadi pelayan ato ngecek kasir. posisi anto seperti investor yg naruh duitnya, n beberapa waktu kemudian tau2 kekayaannya sudah lipat 3.

karena beni, catur n dodik sudah bekerja keras, mereka merasa berhak dapet bagian lebih dibanding anto. kalo hasilnya tetep dibagi rata seperempatan berarti kan nggak adil. anto nggak pernah nglakoni repotnya diomeli pelanggan ato kepanasan gara2 kompor njebluk. tapi mereka bingung gimana cara ngomongnya ke anto tentang situasi ini. mereka bertiga nggak mau hubungan perkoncoan jadi rusak gara2 duit. soal duit memang repot, sahabat pun bisa jadi sensitif kalo sudah ngomong urusan duit, betul?

itu masih belom semua, kemudian seperti apa perhitungan diskon buat anto? berapa persen mereka bertiga boleh ngambil hak lebih dari anto? pengalaman menjalankan operasional warung kan sifatnya intangible, nggak bisa diukur dengan uang.

jadi sebelum meeting berempat, mereka bertiga tanya2 dulu, enaknya gimana ini? ada yg bisa bantu?



(iya, ini mungkin cuman kasus sepele, nggak seberapa seru, tapi kan lumayan buat belajaran)

Labels: ,

“case study: bagi hasil”

  1. Anonymous Q Says:

    yang ikutan kerja, anggap aja dapat tambahan berupa gaji selain pembagian keuntungan. yang nggak ikutan kerja cuma dapat pembagian keuntung gak dapat gaji. Besarnya gaji? yo embuh, terserah RUPS :)

    Jangan lupa sisihkan buat biaya konsultasi bisnis ini yak ;)

  2. Blogger blossom Says:

    setuju pak Q, jd kalo misalnya mereka kerja yg harusnya dpt basic salary + allowance, si anto cuman dpt basic salary ajah ga usah dikasih allowance, krna dia kerjanya kan cmn dikit gitu....

  3. Blogger doeljoni Says:

    yap... emang harus dibedakan antara angota pasif dan aktif...

    kapan perhitungan pemegang saham,..kapan perhitungan gaji...

    cara naifnya mungkin gini...
    ongkos operasional = cost produksi + total gaji disepakati

    gaji disepakati harus dishare 'adil' antara member aktif

    total revenue - (ongkos operasional + anggaran modal periode berikutnya) = keuntungan yg harus dishare sama rata antara semua pemegang saham


    kira-kira begitu ...

  4. Blogger rubah pertapa Says:

    wah persis kasus yang dihadapi temenku nih! PAda akhirnya mereka sepakat untuk memberikan (dalm istilah mereka) "Saham Pengelola". Jumlah Saham Pengeloa ini mereka sepakati sebesar 5% dari total saham. Kebetulan yang menjadi pengelola hanya 1 orang dan jumlah partner/investor/owner 3 orang, soa 2 orang yang bukan termasuk pengelola merelakan saham yang merka miliki dipotong masing-masing sebesar 2,5%. Kebetulan lagi jumlah kepelimikan saham berbeda-beda dan si partener pengelola merupakan investor dengan jumlah saham terminim. Kebetulan lagi mereka sahabat deket banget, so saat masalah ini ditemukan mereka bisa ngobrol terbuka dan santai soal masalah ini, sampai dicapai kesepakatan di atas. Gaji = fix revenue, tidak menjadi opsi yang mereka pilih.

  5. Anonymous Anonymous Says:

    seharusnya si anto sudah menjelaskan sejelas-jelasnya sebelum usaha dilakukan ke beni, catur, dan dodik bahwa dia adalah investor... dengan kata lain si anto adalah bos dan beni, catur, dan dodik adalah karyawan. dan itu perlu tertulis supaya tiak terjadi problem yang ada seperti ini. Seharusnya pula perjanjian akan gaji yang diberikan anto sudah dilakukan sebelum usaha berkembang. Beni, Catur n Dodik tidak sepantasnya meminta pembagian seperti layaknya mereka sama dengan investor karena status mereka memang karyawan. Sekarang kalo mau keuntungan yang adil antara bos yang karyawan harus dibicarakan dengan baik antar semua pihak. Sekarang tinggal anto bagaimana menyingkapi permintaan kenaikan gaji oleh karyawannya.

  6. Blogger mimimama Says:

    seharusnya seharusnya seharusnya...

    seharusnya kalo komen disini pake identitas yg jelas, at least nyebut nama lah, nggak anonymous gitu, keliatan pengecut yg nggak berani tanggung jawab atas tulisan komentarnya.